Bagi sebagian orang, sampah adalah masalah. Tapi bagi Anik Sriani, sampah adalah sumber pendapatan baru. Sampah-sampah plastik yang sudah masuk tempat sampah itu, disulap menjadi barang bernilai jual tinggi. Mulai dari tempat tissue, tas, dompet dan lain sebagainya.

Anik, adalah perempuan asal Dusun Munggalan Desa Karangsono Kecamatan Kanigoro Kabupaten Blitar. Kesehariannya sebagai ibu rumah tangga dan penjual mie ayam. Namun, kepeduliannya terhadap lingkungan sekitar, patut dicontoh. Dia, paling tidak bisa melihat sampat berserakan. Berawal dari situ, dia mulai memungut sampah-sampah plastik, dan dijadikannya  sebuah kerajian yang bernilai jual tinggi.

Setiap hari, istri Wiyono ini mengumpulkan sampah plastik yang ada disekitarnya. Mulai bungkus minuman instan, bungkus snack, bekas minuman, dan lain-lain. Barang-barang tersebut dikumpulkan hingga menumpuk dirumahnya. Setelah barang terkumpul, baru diproses. Mulai dari memotong, mencuci dan menjemur. Potongan plastik bekas tersebut dibuat sesuai dengnan permintaan pasar.

Selama ini, tak sedikit perminataan dari para konsumen. Baik dari dalam desa maupun dari desa yang lain. Promosinya pun sederhana, melalui media sosial, Anik menawarkan hasil kerajinannya. Omset dari kerajinannya ini pun, cukup fantastis, jika ramai pesanan, bisa mendapatkan hasil sampai Rp 2,5 juta sampai Rp 3 juta sekali pesan.

Lalu, bagaimana ibu dari Maulana Sandy Chandra Mukti dan Maulana Adhitya Aji Nugraha ini mulai mendapat pesanan? Awalnya pun tak ada maksud untuk berpromosi. Suatu ketika, Anik membawa hasil kerajinan tangannya ke sebuah kegiatan Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) dusun setempat. Ibu-ibu PKK yang dari awal sudah melirik tas plastik itu, mulai ingin tahu, dari mana Anik mendapatkannya. Anik menjawab bahwa tas itu adalah hasil kreatifitas tangannya.

Kreatifitas Anik ini pun langsung mendapat respon dari pengurus PKK, dan perempuan berdomisili di RT 03 RW 05 ini langsung diusulkan untuk masuk Program Keluarga Harapan (PKH). Sehingga dana bantuan dari PKH tersebut, dapat digunakannya sebagai tambahan modal membuat kerajinan yang lain.

“Awalnya sih saya membawa tas hasil kerajinan saya ke pertemuan PKK, dan ibu-ibu yang lain bertanya, dari mana tas yang saya bawa ini. Saya bahwa ini adalah hasil kerajinan saya. Dari situ mereka mulai mengenal kerajinan ini. Dan saya diikutkan ke program keluarga harapan,” tuturnya kepada wartawan bale siang itu.

Namun, dana yang diperolehnya dari PKH ini pun tak seberapa. Untuk membangun tempat usaha atau untuk membeli peralatan yang memadai pun tak cukup. Kendati demikian, perempuan kelahiran Blitar pada 1976 silam ini pun tak lantas putus asa. Dia tetap semangat untuk berproduksi.

Harapannya, pihak pemerintah desa bisa memperhatikan hasil kerajinannya. Setiadaknya, ada bantuan sarapa dan prasara yang dapat digunakan untuk memproduksi kerajinan dari sampah plastik tersebut. Di samping itu dia berharap, ada fasilitasi dari pemerintah, agar masyarakat yang lain juga dapat memproduksi hal serupa, sehingga kerajinan ini bisa menjadi mata pencaharian masyarakat lainnya.

[]BETRIS/NASRUR

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *